Saya bukan seorang pakar. Hanya mencoba memberikan judul yang cocok untuk menghubungkan keduanya hingga bisa menghasilkan tulisan berisi pengalaman, yang mungkin bisa bermanfaat bagi pembaca.
Mari kita mulai dengan arti dari kedua kata tersebut. Menurut http://kbbi.web.id/ dijelaskan bahwa:
filsafat /fil·sa·fat/ n 1 pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya; 2 teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; 3 ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi; 4 falsafah
jurnalisme /jur·na·lis·me/ n pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam surat kabar dan sebagainya; kewartawanan;
-- alkohol Kom jurnalisme yang tidak berdasarkan kebenaran, tetapi hanya isapan jempol;
-- kuning Kom surat kabar atau majalah yang dengan sengaja mengeksploitasi sesuatu untuk merebut perhatian dan minat pembaca dengan muslihat yang membangkitkan emosi tanpa disertai fakta
KEKUATAN JURNALIS
Seorang jurnalis tak lepas dari segala hal kegiatan dalam meliput peristiwa, kejadian, investigasi, penggalian data kepada para narasumber. Hal itu menjadi salah satu kekuatan seorang jurnalis yang dilindungi UU dalam penyelenggaraan peliputannya.
(Baca : Apa Itu Sastra?)
(Baca : Apa Itu Sastra?)
Mau tidak mau, narasumber juga harus memiliki bahan data -yang benar- untuk disampaikan kepada para jurnalis, lalu menjadi tanggung jawab jurnalis untuk menyampaikan kepada masyarakat mengenai data-data yang telah dikemas dalam pelaporannya.
RODA PENGGERAK PIKIRAN DAN HATI
Dalam penggalian data serta investigasi, seringkali beragam hal baru dijumpai, dan banyak masyarakat harus mengetahuinya.
Gempuran data dan wawasan baru membuat jurnalis terbawa dalam suasana, yakni merasa terlibat untuk sama-sama mencari kebenaran. Seringkali pula muncul sejumlah bersitan "lho, kok gini, seharusnya khan begini, tapi mengapa?"
Dari situ, amuba-amuba filsafat terasa mulai bergerak dalam setiap saluran tubuh, menuju otak dan hati seorang jurnalis. Menggerakkan semua komponen tubuh memaksa untuk kembali ke masa lalu. Banyak penyesalan dari keputusan para pemangku kebijakan yang mulai diingat. Dan mulai geram dengan zaman yang tetap tidak berubah dengan kondisi yang mungkin juga membuat masyarakat marah.

Dukur bahasane
ReplyDeletePooool. Hehehehe :D
Deleteudah, mikirnya jangan dalem-dalem mas, ntar gak bisa gemuk lho. :D
ReplyDeleteHahaha, ntar kalo waktunya gemuk, pasti gemuk.
Deletepara jurnalis memang gak lepas dari memikir. Semangat!
ReplyDeleteBener mas, jadi semangat lagi nih
DeleteCari terus kebenaran, jangan pantang menyerah
ReplyDeleteSetujuuuu
DeleteSampaikan suatu kebenaran, agar masyarakat tahu apa yang sedang terjadi
ReplyDeleteIya, itu benar mas :D
DeleteTerus maju, pantang mundur. Berpikir itu perlu.
ReplyDeleteTerus berjuang :D
Delete